Melihat fenomena lemahnya usaha masyarakat dalam memproduksi berdampak pada keinginan mengkonsumsi barang sebanyak-banyaknya. Permasalahan itu begitu nampak menjalar pada budaya hidup masyarakat terutama di daerah ini.
Di tengah perkembangan zaman dewasa ini, masyarakat kita begitu menikmati. Tapi sayangnya, sikap itu berdampak negatif bagi laju kehidupan yang tak diimbangi dengan usaha hidup yang lebih maju dengan menghasilkan produk-produk atau penemuan baru. Jika demikian adanya, maka permasalahan konsumer punya penyeimbang.
Kondisi kehidupan masyarakat di NTB misalnya harus pontang panting mensejajarkan kehidupannya demi gengsi dengan menyisihkan fungsi suatu barang. Hal ini kemudian berdampak pada minat belanja lebih tinggi, sedangkan keadaan ekonomi tidak menjadi ukuran lagi. Apakah mampu dijangkau atau tidak, sebab masyarakat lebih mengutamakan mode dan gengsi.
Wajarlah jika di kota, pusat-pusat perbelanjaan makin hari begitu menjamurnya, tentu pemilik pusat-pusat perbelanjaan itu melakukan peninjauan terlebih dahulu terhadap bagaimana kondisi atau minat beli masyarakat sebelum ia harus membuka usaha.
Permasalahan di atas, semakin memperparah kondisi ekonomi yang terus dipacu tanpa menilik budaya masyarakat yang tak memiliki penyeimbang dalam menunjukkan dan menghadapi arah perkembangan yang mengarah pada budaya hedon. Laju perubahan semacam ini parahnya tak mampu dibendung lagi. Oleh sebab itulah kesadaran dan kerangka berpikir masyarakat kita perlu untuk diluruskan kembali. Dan pendidikan seharusnya memegang peran penting meluruskannya.
Selain itu, budaya konsumer dan hedon berdampak menciptakan kehidupan menjadi rapuh, dan kemajuan menjadi utopis. Kita tahu, banyak kalangan menilai bahwa di balik perubahan zaman secara tak langsung manusia semakin berjalan mundur menjauhi kemajuan.
Namun berbeda jika kita membandingkannya dengan negara-negara maju. Selain mereka mengkonsumsi barang mutakhir juga tak pernah lupa memproduksi dan terus bekerja untuk menemukan hal-hal baru agar dikonsumsi oleh orang lain. Artinya mereka mempunyai titik kesimbangan antara minat membeli dengan usaha untuk memproduksi.
Berbanding terbalik jika harus melihat sejarah bagaimana budaya leluhur kita dalam menghasilkan beragam karya. Dimana hampir setiap lingkup wilayah memiliki beragam karya yang memilki corak atau kekhasan tersendiri. Seperti songket, gerabah, dan kerajinan-kerajinan lainnya. Perbedaan dari corak itu kemudian menjadi semacam penanda identitas daerah. Khasanah yang sungguh terlupakan dari kerangka berpikir masyarakat kita. Jika dibandingkan dengan jejak-jejak kehidupan saat ini yang bisa dikatakan hampa, selain tak mempunyai kerja, juga ide untuk menghasilkan karya menjadi tumpul.
Begitu pun kekhasan produk-produk baru tak lagi diproduksi. Sebab sibuk membeli dan mengkonsumsi barang-barang hasil impor dari luar. Berakibat juga bagi matinya keinginan dan pola pikir yang dibingkai untuk mencintai hasil cipta sendiri. Barang-barang tradisional menjadi punah akibat tidak dilestarikan. Nuansa masa lalu semakin menjauh dari jejak-jejak kehidupan. Sebab laju perubahan begitu melesat tanpa pandang kondisi ekonomi masyarakat. Padahal jika menyusun kembali kearifan-kearifan lokal dalam cara berpikir masyarakat kita nampak berbanding terbalik dari bingkai kearifan lokal daerah ini.
Bolehlah mencontoh di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terkenal dengan kearifan masyarakat lokalnya seperti ungkapan “lobe utang ina gete, mala’au seduk ne’I ma ha’o ata utang ata to lele lora” maksudnya, perempuan yang mengenakan sarung indah buatan diri sendiri menandakan kebesaran dan kematangan pribadi perempuan tersebut. Konon di NTT jika seorang meminjam sarung, biasanya orang-orang akan menertawakannya.
Juga katanya, jika seorang gadis tidak pandai atau terampil menenun sarung akan kesulitan mencari jodoh. Pola berpikir mistik itu sayangnya tidak kita pertahankan saat ini, meski sekadar sebagai motivasi untuk mengahasilkan sesuatu hal yang bermanfaat, dan menjaga intensitas dalam berkarya. Nilai-nilai mistik tak mampu lagi bertahan.
Jika nilai mistik itu hilang maka kearifannya pun ikut terkubur di dalamnya. Artinya nilai itu adalah roh yang mendorong untuk berbuat, bersikap atau beraktivitas seperti di zaman itu.
Di Lombok, ada sebuah pantun singkat yang berbunyi; empat lime lepang tunjuk/ berat ime mesang cucuk. secara harfiah dapat diartikan dengan tangan berat, mulut yang ringan. Artinya ketika seseorang mempunyai keinginan untuk memenuhi hasratnya tak diimbangi dengan bekerja keras untuk mendapatkannya. Saat ini agaknya pantun penuh nada satiris itu berlaku pada kehidupan masyarakat di daerah ini.
Saat kebutuhan begitu meningkat sebab dorongan laju peradaban begitu menantang untuk dikonsumsi. Sebab jika dilihat dari karya masyarakat di daerah ini sangatlah minim. Masyarakat lebih banyak mengkonsumsi produk-produk luar demi citra dan gengsi yang telah mengalahkan fungsi, apalagi remaja.
Kendati demikian, ragam karya sebagai identitas di setiap pemukiman atau tempat tinggal tergerus bersama hasrat membeli dan malas untuk memproduksi. Alih-alih menghasilkan karya besar atau mutahkir saat ini, malah masyarakat harus tunduk pada ambisi dan usaha menaklukkan gengsi.
Ada kalanya untuk merenungkan kembali makna di balik hasil karya leluhur yang telah ditinggalkan. Bukan hanya sebagai tontonan kala ingin benostalgia, akan tetapi sebagai semacam pengingat agar selalu menghasilkan hal yang lebih dari karya para leluhur dulu. Bukan malah harus mundur tak menghasilkan apa-apa.
Meski adapun yang masih tertinggal dari masyarakat yang mempertahankan produk khas daerah hendaknya dijaga dan dikembangkan menuju arah yang dikontekskan dengan perkembangan saat ini. Maka kerajinan-kerajinan dan para perajin yang masih intens bergelut di bidang itu agar segera mendapat ruang untuk berkarya. Sebagai penjaga gerbang produk lokal sebelum terlampau dihapus, sebelum puing-puingnya terkubur bersama pergeseran zaman yang begitu melaju kencang.
Alhasil, jika melihat daerah ini, apakah laju perkembangan itu diikuti dengan sumber daya manusia yang bergerak ke arah kemajuan atau malah semakin mengalami kemunduran? Atau mungkin James Baldwin, dalam bukunya The Price of the Ticket benar, bahwa suatu identitas dipertanyakan hanya ketika ia terancam, seperti ketika si perkasa mulai runtuh, atau ketika yang celaka mulai bangkit, atau ketika si orang asing masuk lewat gerbang… ( SUMBAWA POST ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar