Flash

Kamis, 03 Mei 2012

Ni Putu Yogiswari Buat Kejutan di Singapura


Mataram, SUMBAWA POST -
Ni Putu Yogiswari (17), atlet tolak peluru asal NTB membuat  kejutan dengan membuat rekor baru  di  kejuraaan  atletik tingkat Asia Tenggara di Singapura 26-29 April lalu.  Siswa SMA 4 Mataram itu berhasil  persembahkan  medali emas  untuk  Indonesia di Kejuaraan Asian Youth Athletics  Championship dengan hasil tolakan sejauh  13,30 meter. Hasil ini sekaligus menjadi  tolakan terjauh sepanjang  kejuaraan  yang sama.
Pelatih Tolak Peluru  PPLP NTB, I Wayan Gunaksi, yang dihubungi Suara NTB di Mataram,  Kamis (3/5) kemarin, menjelaskan, prestasi yang dicatat atlet kelahiran 19 Maret 1995 ini sekaligus menjadi rekor terbaru di  kejuaraan Asia  Tenggara.
Selain  Ni Putu Yogiswari, di kelompok lainnya, atlet asal NTB, Sudirman Hadi juga berhasil menyumbangkan  medali perunggu untuk tim  merah putih di nomor estafet  4 x  100 meter  putra.  Raihan prestasi yang dibuat oleh dua atlet remaja NTB tersebut sekaligus membuktikan  atlet NTB sangat diperhitungkan di tingkat nasional hingga internasional.
Sementara, katanya, pada Kejuaraan Atletik Tingkat Remaja di Jakarta baru-baru ini,  Ni Putu Yogiswari juga berhasil mempersembahkan medali emas NTB. Sukses pada  kejuraan remaja tingkat nasional, Yogiswari pun  dipanggil  PB PASI untuk memperkuat tim Indonesia  Kejuaraan Asian Youth Athletics  Championship dan berhasil meraih medali emas.
Yogiswari mengungguli  atlet asal Thailand dan Malaysia yang  menempati peringkat dua dan tiga. Ni Putu Gogiswari  yang  berusia 18 tahun ini diharapkan bisa lebih baik lagi dan dapat menyamai rekor atlet senior NTB, Dewi Lantari, yang saat ini menjadi  atlet kebanggaan NTB dan akan mewakili NTB di PON XVIII Riau September 2012 mendatang.

Berambisi Jadi yang Terbaik


LUKMAN, atlet tarung derajat NTB, siap meladeni atlet  Jawa Tengah (Jateng)  yang akan melakukan uji coba dengan atlet NTB di Mataram,  akhir  Mei mendatang.  Meski pertarungan itu  bukanlah sebuah target, namun  peraih medali perak Pra-PON Tarung Derajat di Kalimantan Timur ini sangat berambisi menjadi yang terbaik.
“Saya tak boleh main-main menghadapi anak-anak Jateng. Yang jelas saya akan berusaha tampil maksimal dan menjadi yang terbaik.  Pasalnya pertandingan try inatau uji tanding   ini sangat penting untuk mengukur kemampuan saya,” ucapnya.
Meski hanya pertandingan uji coba, namun akan menjadi salah satu pertandingan yang paling seru dan menantang. Alasannya, Jateng akan menurunkan atlet yang lolos PON, sehingga setiap atlet berusaha tampil terbaik.
Dalam hal ini, Lukman tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, dan ia akan memanfaatkan pertarungan uji coba itu sebagai ajang untuk mengukur kemampuannya. Target yang ingin dicapai dalam pertandingan uji coba nanti adalah membaca kemampuan atlet-atlet Jateng, sehingga  ketika akan tampil di PON membaca kemampuan lawan tanding.

Akan Jadi Pelabuhan Wisata PKL Jalan Pabean Sebaiknya Lebih Modern


Mataram, SUMBAWA POST
APKLI (Asosiasi Pedagang Kaki Lima) Kota Mataram menyarankan kepada PKL yang berjualan di sekitar Jalan Pabean Ampenan agar tampil lebih modern. Mereka harus menyesuaikan diri dengan fasilitas pelabuhan pariwisata yang akan dibangun di eks Pelabuhan Ampenan.
Ketua APKLI Kota Mataram, M. Nur Rahmat kepada Suara NTB di Kantor Wali Kota Mataram, kemarin menilai PKL di Mataram masih cenderung tradisional. ‘’Masa’ nanti akan ada pelabuhan pariwisata lalu pedagangnya masih saja pake kereng,’’ selorohnya. PKL di eks pelabuhan Ampenan, menurut dia, harus mulai mengubah mainset soal PKL yang modern. Bila perlu, karena nantinya akan bersentuhan dengan wisata, PKL harus bisa berbahasa Inggris.
Dari sisi jualan, Nur Rahmat juga mengkritisi monotonnya jenis dagangan yang ditawarkan PKL. Bagaimana tidak, dari Ampenan sampai Cakranegara rata-rata PKL menjual makanan berupa nasi bingkus, bakso dan sejenisnya. ‘’Ada baiknya mereka menjual cinderamata dan makanan khas dari dua pulau di NTB yakni Lombok dan Sumbawa,’’ ujarnya.
Ia menyebutkan, jumlah PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Pabean sekitar 50 orang. Sayangnya waktu relokasi, kata dia, APKLI Kota Mataram tidak dilibatkan. Selama ini, kalau ada relokasi PKL, pihaknya selalu dilibatkan. Sebab, karakter PKL, ada kesungkanan berhubungan dengan aparat berpakaian resmi. Sedangkan APKLI lebih pada pendekatan secara kekeluargaan.
Nur Rahmat mencontohkan, relokasi PKL di Jalan Ismail Marzuki. ‘’Kan sampai sekarang tidak ada masalah. Karena memang pendekatan kita secara kekeluargaan,’’ tandasnya. Untuk menggalakkan pembinaan kepada PKL, pihaknya berharap ada kepedulian dari pihak BUMN dan swasta. Selama ini, perhatian pihak BUMN dan swasta terhadap keberadaan para PKL di Mataram khususnya dinilai masih minim.

Membangun Kembali Otoritas Guru Oleh : Abdul Malik (Penulis adalah Dosen IAIN Mataram sekaligus Pemerhati Pendidikan)


Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai pusat sekaligus koordinator kebijakan pendidikan di seluruh nusantara. Sudah saatnya memandang dengan kecamata realitas, bahwa negara ini akan maju saat bangsanya berpendidikan layak sesuai dengan karakter budaya bangsa itu sendiri. Pendidikan  yang layak memungkinkan bangsa seperti Jepang mampu tampil sebagai negara besar dan maju pada saat sekarang. Kemajuan negara Jepang  dewasa ini tentu tidak lepas dari spirit dan mental manusia Jepang yang telah menjadi karakter bangsa Jepang sejak dulu.
Karakter yang telah membudaya ini, menjalar pada pola pikir, mental, emosional, dan spiritual yang pada gilirannya melahirkan kepribadian yang berujung pada kinerja orang Jepang itu sendiri. Persoalan kemudian bagaimana dengan bangsa Indonesia tercinta ini memulai kemajuannya? Bagaimana pula dengan nasional karakter bangsa ini dibangun? Tidak mudah untuk menjawab pertanyaan di atas secara tuntas, karena pertanyaan tersebut merupakan permasalahan mendasar yang sedang dialami oleh bangsa sekarang ini. Kendatipun demikian, aspek-aspek kunci untuk memperbaiki bangsa ini sudah kita pahami bersama. Adalah pendidikan sebagai kata kunci yang dimaksudkan itu, apalagi dengan menaikan anggaran pada sektor pendidikan saat ini, selayaknya harus berdampak pada peningkatan mutu pedidikan secara holistik dan sistemik termasuk kualitas guru.
Secara eksternal ada beberapa hal yang menjadi kendala bagi terciptanya profesionalisme guru. (1). Semakin sempitnya kewenangan atau otoritas guru dalam proses mendidik dan mengajar pesera didik, (2) kualitas atasan atau pimpinan yang mengawasi dan mengontrol para guru, (3) Rendahnya pemberian punisment and reward pada guru. Di Indonesia otoritas guru itu cukup sempit sekali tidak sebanding dengan beban tanggung jawab yang dituntut oleh pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, tidak heran kebanyakan guru di sekolah lebih tidak kreatif dan inovatif apalagi produktif. Keberadaan guru di sekolah “kasarnya” hanya mengikuti jadwal, kurikulum, yang telah ditetapkan sekolah dan pemerintah.  
Selain itu,  eksistensi dan kemerdekaan guru terkungkung oleh hegemoni “kekuasaan dan hasrat” kepala sekolah. Selain pada ranah birokratif, ranah edukatif pun kadang guru tidak mempunyai kewenangan yang luas (untuk tidak mengatakan “dirampas” kewenangannya). Di sekolah, proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan tertib, soalah-olah tidak ada masalah padahal yang terjadi adalah ada ke kosongan dan kerapuhan di dalam pendidika yang sedang dilakukan . Seluruh materi diajarkan selesai sesuai dengan kurikulum dan jadwal. Nilai raport pun semuanya baik, dijamain para siswa mendapatkan nilai rata-rata enam walaupun banyak “kejanggalan”.
Katakanlah berkaitan dengan “nilai ketuntasan minimal,” dalam konteks ini, ada kesan bahwa guru dibelenggu otoritas-otoritasnya dalam mengembangkan tugas secara maksimal. Baik terbelenggu oleh kondisi yang ada di sekolah tersebut maupun oleh kebijakan pemerintah itu sendiri. Pada tingkat kebijakan pemerintah pusat misalnya; persoalan otoritas guru masih menjadi permasalahan tersendiri. Otoritas ini pada hakekatnya berkaitan dengan profesionalisme dan keberlangsungan tugas guru secara tuntas. Misalnya dalam skala makro otoritas para guru masih sangat sempit, hal ini dapat di lihat dari perangkat-perangkat hukum atau regulasi yang menunjang otoritas tersebut.
Misalnya, sejauh mana batas-batas peran serta (otoritas) guru dalam menangani peserta didik yang bermasalah, bagaimana dan sejauh mana guru menempatkan hak-hak serta tanggung jawabnya sebagai pendidik dan pengajar ketika menghadapi peserta didiknya. Kalau ditinjau secara kritis kegagalan sekolah membentuk pribadi sisiwa selama ini sesungguhnya disebabkan karena otoritas guru telah dipangkas, direduksi sehingga tupoksi guru tidak berjalan sebagaimana mestinya. Guru semestinya, memiliki tupoksi mendidik dan mengajar dalam arti yang cukup luas, sistimatik, sistemik, integratif, holistik, dan kontinue tetapi pada kenyataan sekarang kebanyakan guru hanya menjalankan tugasnya sebagi pengajar atau mengajar an sih.
Kebanyakan guru sekarang ini memaknai tugas utamnya adalah hanya mengajar, sehingga tidak heran kemudian guru datang ke sekolah hanya menggugurkan kewajiban semata, hubungan dengan siswa bersifat mekanik, proses belajar yang dijalankan lebih kaku dan terjebak pada hegemoni kurikulum. Sehingga kemudian, kenapa pendidikan yang berorientasi perubahan karakter peserta didik tidak tercapai dengan baik karena aspek dan domain guru dalam arti mendidik justru sudah tidak dilaksanakan dan dinafikan. Selain itu pula, pendidikan yang dijalankan sekarang ini lebih memenuhi hasrat kognitif semata ketimbang kebutuhan afektif dan hatinya.
Sehingga pada akhirnya pembangunan karakter peserta didik tidak simultan antara pembinaan pikir (IQ) dan hatinya (SQ) dan tidak seimbang antara pencerdasan otaknya dengan pencerahan hatinya. Ini semua terjadi lantara tugas pokok guru itu sudah bergeser dan tereduksi secara besar-besaran. Padahal membina segala potensi siswa adalah tugas utama guru yang mengarah pada pengembangan perilaku dan pengetahuan peserta didik seutuhnya.
Pendidikan yang sejati adalah pendidikan  integratif-holistik yang harus berdampak pada perubahan pola pikir dan pola laku peserta didik. Hal ini sinkron dengan otoritas guru yang diamanatkan oleh undang-udang RI Nomer 14 tahun 2005, bab I, pasal 1, ayat, 1 disebutkan, bahwa yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, dan mengevaluasi peserta didik (UU nomor 14 tahun 2005). Jadi, jelas sangat keliru jika pendidikan dewasa ini hanya diterjemahkan dan dijewantahkan sebagai proses pengajaran semata. Oleh karena itu, semua pemangku pedidikan seharusnya mengembalikan tugas dan fungsi pokok guru ke fitrahnya, agar tercipta pendidikan yang berdampak abadi. Seperti pendapatnya Henry Adam, bahwa “guru itu berdampak abadi, ia tidak pernah tahu, dimana pengaruhnya itu berhenti” (A teacher effects eternity, he can never tell where his influence stops).
Dewasa ini banyak sekali, guru yang was-was pada saat mendidik dan mengajar, hal ini terjadi karena guru dihadapkan dengan undang-undang perlindungan anak dan undang-undang sejenis yang sering diterjemahkan secara sensintif dan tidak proposional oleh orang tua murid. Sebagai faktanya, berapa banyak guru yang dilaporakan ke polisi lantaran dianggap melakukan kekerasan pada peserta didik. Begitu juga, was-was yang diakibatkan oleh manajemen dan personifikasi kepala sekolah yang cenderung otoriter dan kaku. Pada hakekatnya kondisi tersebut memberikan beban psiklogis tersendiri pada guru sehingga terjadi distorsi besar terhadap otoritas guru dalam mendidik siswanya.
Sehingga, jika kondisi ini tidak segera diperbaiki maka jangan bertanya kenapa guru banyak yang tidak kreatif, produktif, kurang rasa ingin tahu terhadap perkembangan siswanya, dan tidak memiliki gelisahan atas kualitas out put yang dihasilkannya. Di Jepang wewenang guru cukup luas sekali, konon sampai guru memiliki hak untuk menegur dan memarahi wali murid apabila orang tua murid tersebut tidak mampu mendidik anaknnya di rumah dengan baik sesuai dengan tuntutan dan pesan sekolah. Selain itu juga, guru memiliki otoritas penuh dalam memantau dan kontrol terhadap keberhasilan kurikulum yang dilaksanakan di Sekolah.
Dilihat dari peren guru di atas tentu guru tidak hanya bertugas untuk mengajar dan mendidik semata akan tetapi lebih luas dari pada itu. Untuk mencapai pada tingkat ini tentu membutuhkan ketersediaan perangkat hukum dan perangkat yang lainnya. Dalam  konteks di atas, bangsa Jepang  menempatkan aspek pendidikan benar-benar dijadikan tujuan dan tugas bersama dari  masyarakat (orang tua), guru, dan pemeritah. Sehingga, Jepang memiliki padangan, peran dan perhatian yang sama terhadap pendidikan yang berujung pada kerja sama yang solid dan mutualisme.
Para pendiri bangsa ini sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan bahwa peran dan keterlibatan aspek masyarakat, guru dan pemerintah secara aktif dalam pendidikan adalah suatu keharusan, di mana guru sebagai komandonya di lapangan harus diberikan wewenang dan otoritas yang luas. Wewenang dan otoritas tersebut diatur, dilindungi, dan dikontrol oleh undang-undang yang jelas dan mengikat. Dengan demikian diharapkan kedepan guru dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan maksimal sesuai dengan ruang dan otoritasnya. Semoga.

Internet, Media Dakwah Alternatif


Bertepatan dengan Peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) hari ini, (2/5),  Kampung Media NTB dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi (DIHUBKOMINFO) NTB menyelenggarakan kegiatan Lomba Menulis Bebas dan Bimbingan Tekhnologi (BIMTEK) untuk siswa-siswi SMA/SMK dan MA se-Kabupaten Lombok Tengah dengan mengangkat tema “Internet Sehat”.  
“Ini merupakan kegiatan Roadshow Kampung Media se NTB.” Jelas Hj Darwati Kepala BPIP Dishubkominfo NTB
Lebih lanjut Darwati menjelaskan bahwa para pelajar merupakan pengguna terbanyak dari media online ini, sehingga pihaknya telah menyelenggarakan kegiatan untuk para pelajar sejak tiga tahun terahir. “Pelajar merupakan pengguna internet terbanyak, karena itu kami fokus untuk membimbing mereka untuk memanfaatkan internet secara positif bersama Komunitas Kampung Media se NTB,” tegasnya
Ketua panitia Lomba Menulis dan Bimtek, Johan Isnaini, S. Pd mengaku cukup senang karena antusiasme para peserta sangat besar. Menurut penjelasannya, awalnya panitia merencanakan kegiatan ini dihadiri hanya 100 orang siswa dari 22 Sekolah dengan alokasi masing-masing sekolah mengirimkan 4 orang siswa. Namun antusiasme sekolah yang sangat tinggi menjadikan beberapa sekolah ternyata mengirimkan peserta lebih, bahkan ada beberapa sekolah yang mengirimkan hingga 11 orang siswanya.
“Kami tak menyangka antusiasme peserta begitu besar, dari target awal hanya 100 orang menjadi 150 orang lebih” Ungkapnya.
Kegiatan yang diselenggarakan di gedung serba guna Kemenag Lombok Tengah ini berlangsung meriah. Kegiatan dimulai pukul 08.00, dan peserta sudah memenuhi ruangan sejak jam 07.00 pagi.
Setelah pembukaan, kegiatan dilangsungkan dengan lomba menulis bebas dengan tema “Internet Sehat Menurutku”. Para peserta diberikan durasi 30 menit untuk menuliskan apa yang mereka fikirkan tentang internet sehat di selembar kertas yang dibagikan panitia. Tiga Sekolah keluar sebagai penulis terbaik yakni, SMK 1 Praya Tengah, SMK 1 Batukliang Utara dan SMA 1 Kopang. Masing-masing sekolah tersebut diberikan hadiah fasilitas Internet Mobile lengkap dengan rooter-nya.
 Koordinator Kampung media NTB, Fairuz Zabadi yang menjadi pembicara saat itu menyampaikan, kehadiran tekhnologi informasi khususnya Internet yang begitu deras tak mungkin bisa ditolak. Satu-satunya cara yang bisa dilakukan generasi muda adalah bagaimana memanfaatkannya secara positif.
Fairuz yang juga Ketua NU Kota Mataram itu menegaskan, Tehnologi Internet dapat dijadikan sarana dakwah untuk mengajak orang berbuat baik dan menhentikan orang untuk berbuat keburukan.
“Internet sehat itu tak sekadar beramakna bagaimana anda tidak mengakses situs-situs porno, tetapi lebih dari itu, internet harus digunakan sebagai sarana menebar kebaikan dan dakwah alternatif bagi banyak orang” Ungkapnya. 
Fairuz menambahkan, itulah sebabnya, Komunitas Kampung Media yang digagasnya di hampir semua kecamatan di NTB memilih Internet dan blog sebagai sarana penyampai informasinya.
“Karena informasi apapun yang anda tulis dan ceritakan akan langsung dibaca dan dinikmati oleh masyarakat di seluruh dunia dan ini adalah dakwah” katanya. 
Dalam kesempatan itu, Fairuz juga mengundang para siswa dan para guru untuk ikut menulis di Blog Kampung Media - Kampung Media yang sudah ada terutama tentang kegiatan disekolah mereka dan apa saja yang terjadi disekitarnya.
“Apa yang terjadi disekitar anda adalah informasi penting bagi orang lain, silakan anda tulis. Jangan ragu, tulisan apa saja akan dimuat, sepanjang bermanfaat untuk orang lain” Tandasnya. 

Gubernur : Hasil Survai Sangat Ditentukan Metodologi


Mataram, SUMBAWA POST
Survai terhadap program unggulan seperti dilakukan Tim Sekretariat Program Unggulan, sangat  tergantung dari metedologi yang digunakan. Metodologi ini menentukan hasil dan tujuan survei itu sendiri.
‘’Jika masyarakat ditanya soal tahu tidak program Bumi Sejuta Sapi (BSS), masyarakat tidak banyak yang tahu. Akan tetapi kalau ditanya soal program bagi-bagi sapi, maka masyarakat banyak yang tahu. Tergantung metodologinya, kalau masyaratat ditanya tahu BBS maka mereka tidak tahu. Tapi kalau ditanya tahu nggk program pembagian sapi, ada sarjana peternakan dan SMD tentu mereka tahu,”ungkap Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi menanggapi hasil survai tim program unggulan di Mataram, Kamis (3/5).
Menurut gubernur, hasil survai sangat bergantung pada metodologinya. Ketika metodologinya menggunakan nama nomenklatur program seperti BSS dan Visit Lombok Sumbawa (VLS) yang ditanyakan kepada masyarakat, maka tidak banyak masyarakat tahu. Namun, jika metodologi dan pertanyaannya soal program pengembangan pariwisata, banyak masyarakat yang tahu.

‘’Kalau ditanya tahu nggak VLS, maka masyarakat tidak tahu namun kalau program pengembangan pariwisata maka mereka akan tahu, ”ujarnya. Gubernur pada kesempatan itu tidak memberi keterangan panjang lebar terkait hasil survai yang dipertanyakan sejumlah pihak tersebut.

Sementara, dari hasil survai tim Sekretariat Program Unggulan terhadap popularitas program unggulan Pemprov NTB yang dilakukan pada November hingga Desember 2011 lalu terhadap 100 responden di 10 kabupaten/kota di NTB.
Hasil survai program unggulan ini tertuang dalam sebuah buku yang dibuat Sekretariat Program Unggulan berjudul ‘’Program Unggulan NTB Bersaing Kinerja dan Opini Publik 2009-2011”. Dari hasil sirvai itu, program BSS paling populer dibanding program lain dengan jumlah respoden mencapai  66 responden, program angka buta aksara menuju nol (Absano), angka kematian ibu melahirkan menuju nol (Akino) dan angka drop out menuju nol (Adono) atau 3A sebanyak 58 responden.
Sementara program VLS 47 responden, program jagung 39 responden, rumput laut 37 responden dan  infrastruktur 36 responden. Lalu  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) 22 responden, program NTB Hijau 12 responden dan program Kampung Media 12 responden.

Bima Optimis Penuhi Target Penyediaan Pangan

Bima, SUMBAWA POST  -Guna memenuhi pencapaian produksi beras sesuai dengan MoU Bupati Bima Ferry Zulkarnain ST dalam Gerakan P2BN, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Bima tengah berupaya mencapai target. Hanya saja, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Propinsi NTB dan Kabupaten Bima memastikan Kabupaten Bima mampu mencapai target dimaksud. Di mana saat ini saja, Kabupaten Bima telah mencapai 70% dari target.
 
Sesuai dengan MoU, target beras yang harus dicapai Kabupaten Bima sebesar 350 ribu ton lebih. Namun untuk saat ini saja, Kabupaten Bima sudah mampu mencapai 70% dari tagret dimaksud. Guna memantau capaian produksi beras, Tim Pelaksana Pemantau Wilayah Gerakan P2BN pun melakukan evaluasi di Kabupaten Bima. Memang sesuai hasil rapat evaluasi yang dilaksanakan, Kamis (3/5), dari aspek-aspek pendukung yanga ada terdapat sejumlah kendala yang ditemui. Meski demikian, Kabupaten Bima diyakini mampu memenuhi capaian tersebut bahkan lebih dari target.
 
Ketua Tim Pelaksana Pemantau Wilayah Gerakan P2BN NTB, Hj. Husnanidiaty Nurdin  menyebutkan evaluasi  yang menjadi masalah yakni pupuk. Khusus untuk pupuk, katanya, rupanya titik kritis berada di tingkat pengecer yang tak menjual sesuai dengan RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Seharusnya, pengecer menjual pupuk secara bertahap. “Untuk sekarang sudah sesuai,” ujarnya.
 
Begitu juga dengan benih, disebutkannya masalah benih agak berat karena perwakilan perusahaan pemenang tender tak ada di Kabupaten Bima. Sehingga pihaknya terkendala pada masalah waktu dan jenis. Sering kali karena letakknya yang jauh kedatangan benih sering terlambat dan jenisnya tak sesuai hasil kesepakatan tender.
 
Hanya saja,  untuk teknologi tidak menjadi masalah karena sudah ada pengawasannya dengan baik. Guna menunjang produksi beras di Kabupaten Bima masalah teknologi sudah dikawal oleh SLPHT dan SLI. Namun yang masih menjadi catatan yakni masih diperlukannya spesialisasi hasil teknologi karena di Bima pihaknya menemukan dalam penggunaan pupuk secara berlebihan. Sehingga pihaknya menyarankan dibuat demplot (lahan uji coba, red). Supaya petani memahami bagaimana memupuk dengan benar.  
 
Untuk air, juga tak menjadi masalah karena bisa disesuaikan dengan luas lahan. Artinya kapasitas lahan bisa diari.
 
Terakhir, masalah penyuluh sudah dipastikan tidak ada masalah karena kalender tanam sudah ada di BPP. Hanya saja yang perlu dibentuk di tiap-tiap wilayah, yakni posko yang memudahkan petani untuk berkonsultasi jika mengalami masalah.
 
Sementara itu Kepala Dinas Pertanian dan Penyuluhan Kabupaten Bima, Ir Nurdin yang dikonfirmasi menyebutkan pihaknya optimis memenuhi terget dari Propinsi. Sebab tahun lalu saja, pihaknya mengalami kenaikan hasil produksi yakni sebesar 18 % dari yang diharapkan 5%. Kaitannya dengan harapan Bupati, di tahun 2012 pada MH (musim hujan) saja pihaknya sudah mampu mencapai target 70%. Pihaknya tinggal mengejar pada MK1 April-Juli dan MK2 pada Agustus-September. “Kaitan dengan cuaca, kita di Bima tak begitu khawatir. Salah satu wilayah yang dinilai produksinya di atas normal yakni Kecamatan Parado. Sementara kebutuhan konsumsi Kabupaten Bima sendiri, 5.623 ton pertahun dengan jumlah penduduk 438 ribu jiwa. Capaian yang diraih Kabupaten Bima ini sendiri jauh dengan capaian persediaan Bulog Sub Divre Bima yang belum bisa memenuhi target. Dari target 36 ribu ton, Bulog baru bisa merealisasikan 5 ribu ton.